BUKAN
DIA TAPI KAMU
Dipagi hari yang cerah,
seorang gadis manis beranjak dari tempat tidurnya. Dia membuka jendela kamarnya,
sehingga cahaya matahari pagi masuk menembus masuk keruangan kamarnya. Oh ya,
gadis ini bernama Vallen, mempunyai kulit putih, dan rambut yang panjang lurus
sepinggul. Kemudian ia segera mandi dan bersiap untuk pergi kesekolah. Vallen
ini baru kelas X di SMA Bina Nusantara.
“Valleeen . . . . . .!!,
udah siap belum..??? panggil seseorang dari luar, tak lain adalah kakaknya
Vallen, Dewa. Ia mahasiswa semester V UNIKOM Bandunng.
“iya kak, udah siap!”
Kata Vallen keluar dari kamarnya.
Dewa dan Vallen segera
turun dan menuju ruang makan yang udah
ditunggu orang tuanya untuk sarapan pagi bersama.
“Pagi ma. . . pagi
pa . . . !! sapa Dewa dan Vallen
barengan.
“Pagi sayaang,. . . . ayo
sarapan dulu!” Pinta ibu paruh baya itu.
“Oh ya Vallen, nanti kamu
berangkat sekolah bareng kak Dewa ya,! Soalnya mama sama papa mau keluar kota
untuk beberapa hari ini!” Kata papanya bijaksana.
“Yaelah pa, , , ngapain
sih keluar kota? Masa aku ditinggal sendiri sama kak Dewa?” gerutu Vallen
“Gak apa apa Vallen
sayang, kan Cuma sebentar, kak Dewa pasti bisa jagain kamu kok.”sambung
mamanya.
“iya Vallen., kakak pasti
bisa jagain kamu kok, percaya deh. . .!!! kata Dewa tersenyum jahil.
“Iya iya,, pasrah aja
deh. . .” kata Vallen malas.
Setelah selesai sarapan
pagi, Vallen dan Dewa berpamitan untuk berangkat kesekolah.
“pa ma.. kita berangkat
kesekolah dulu ya!” Vallen dan Dewa bersalaman dengan kedua orangtuanya.
“hati-hati nak,. Jagain
adik kamu baik-baik!” kata mama ke Dewa
‘’siap ma, . . Vallen pasti baik baik saja kok ditangan
Dewa’” kata Dewa membanggakan dirinya.
‘’Ihhh, , , kakak cepetan
dong, udah siang nih, ntar aku bisa telat!” teriak Vallen dalam mobil.
“iya, bawel banget
sih(masuki mobil). . .
“da mama, , , da papa. .
.” teriak Vallen didalam mobil sambil melambaikan tangannya dijendela mobil,
dan kemudian dibalas mam dan papanya juga.
15 menit kemudian Vallen
tiba disekolahnya, Vallen segera turun dari mobil
“kak, Vallen masuk duluan
ya. . . nanti jemputnya sorean dikit ya, soalnya nanti Vallen ada ekstra
basket!” kata Vallen pada kakanya lewat jendela mobil.
“oke sayang. . . siap
deh,” kata Dewa sambi beri hormat kepada adiknya itu.
“kakak, apaan sih, gak
usah panggil panggil sayang deh, malu tau kak,,,! Kata Vallen manyun.
“yaelaahh, , , masa malu
sih dipanggil kakanya dengan panggilan sayang? Tanya dewa.
“au ahh. . . . Vallen
masuk dulu, Byee!!” kata Vallen memasuki lingkungan sekolahnya,dan Dewa pun
segera menuju sesekolahnya.
Saat berjalan di koridor
sekolah,ada seseorang yang memanggil Vallen,
“Valleeen . . . . !”teriak gadis itu yang lari menuju Vallen,
dia adalah Leny, dia ini sahabat Vallen yang suka dengan Dewa kakaknya Vallen.
“eh loe Len., pagi-paagi
udah teriak kaya orang kesurupan aja”ucap Vallen datar.
“gitu mulu sih sama
gue”Leny manyun.
“ow iya, tadi loe
dianterin sama kak Dewa ya? Kok gk bilang gue sih., gue kangen tau sama kak
Dewa udah lama gk ketemu.hehe..”kata Leny cengengesan.
“ieeehh..segitu bgt sih
suka sama kakak gue, orgnya aja jahil selangit” ucap Vallen dgn berjalan menuju
kelasnya.
“ganteng tau Len..” kata
Leny yg berlari berusaha untuk berjalan disamping Vallen.
Mereka berjalan menuju
kelasnya, karena kebetulan mereka sekelas.
Suasana kelas belum rame
karena pelajaran belum dimulai. Semua siswa masih pada ngerumpi sesuai dgn
kelompok/gengnya masing-masing. Tak beda dgn Vallen dan Leny yang juga
mengobrolkan tentang murid baru dikelas sebelas yang katannya ganteeng mirip
artis korea yang disukai ABG jaman sekarang.
“eh Len, tau gk? Ada
murid baru katanya cakep loh, seprti artis korea itu, siapa ya?(mikir) iya, itu
Lee Min Hoo” jelas Leny panjang lebar.
“masa’ sih? Ah yg bener?”
tanya Vallen santai.
“Vallen, kok gitu sih.. loe
gk tertarik ya sama dia?” tanya Leny yang
geregetan dengan
sahabatnya itu.
“gimana mau tertarik,
liat orangnya aja belum, paling ya gitu-gitu aja kan kalau cowok, udah biasa
dengan kelakuan cowok yang katanya ganteng” jawab Vallen masih sibuk membaca
novel yang dibawanya.
“awas aja kalau sampai
loe suka sama dia ya,hwhee” canda sahabat Vallen itu.
“iya liat aja
nanti,,hehehe” Vallen pun membakas candaan dari Lenny.
Tak terasa bel istirahat
telah berbunyi, menunjukkan berakhirlah untuk mata pelajaran pagi itu. Lenny
mencoba mengajak Vallen untuk kekantin.
“Len,.ke kantin
yuk.!”ajak Lenny.
“emm, loe duluan deh, gw
mau ke kamar mandi dulu”jawab Vallen yg langsung ngibrit kekamar mandi.
“dasar tuh anak, biarin
deh, pasti nanti dia nyusul sendiri” gerutu Lenny yg langsung menuju kantin.
Disisi lain Vallen yg keluar dari kamar mandi itu tak
sngaja menabrak seseorang.
“ohh, sorry . . .gw gk
sengaja” Vallen minta maaf kepada orang itu.
“heh, mata loe dimana
haa?” bentak cowok itu.
“kan gw udah mnta maaf,
gw gk sengaja” jawab Vallen.
“gak sengaja?? Hahaha.
Alasan aja loe biar bisa nabrak gw kan, ngaku aja deh loe” ucap cowok
itu sinis.
“heh, kalau gk mau maafin
bilang aja gk usah sok cakep, loe pikir gw mau apa nabrak cowok kaya loe, dasar
cowok sinting” ucap Vallen hendak meninggalkan cowok itu, tapi dengan sigap
cwok itu meraih tangan Vallen.
“lepasin tangan gw” ketus
Vallen mencoba mengelak dari cowok itu.
“heh, loe harus bayar
mahal udah menghina gw” cowok itu geram menatap Vallen.
“terus mau loe pa? Apa gw
harus bilang kalau loe itu cowok waras tapi gk punya otak”Vallen tk kalah geram
pada cowok itu.
“heh, untung aja loe
cewek ya, kalau enggak...”cowok itu tidak melanjutkan kata-katanya.
“kalau tidak apa? Gk
berani loe? Pengecut.” Ucap Vallen yg menarik tangannya dari genggaman cowok
itu dan kemudian meninggalkan cowok itu terpaku.
“lihat
aja nanti, loe akan mengejar ngejar gw, gw jamin itu” kata cowok itu dan juga
langsung meninggalkan kamar mandi itu.
“Len. . .
gw gk jadi makan, kalau loe mau makan, makan aja gak apa apa, gue lagi gak mood
buat makan” ucap Vallen.
“loe
kesambet setan apa sih Len? Perasaan abis dari kamar madi langsung sewot, marah
marah gak jelas. Loe kenapa ha?” tanya Lenny heran.
“issh, gw
tadi gak sengaja nabrak cowok, gw udah minta maaf, dia malah marah marah gk
jelas.” Gerutu Vallen.
“udah sabar
aja, loe beneran ini gk makan, yakin?” goda Lenny.
“gw
bilang enggak ya enggak, gk bakalan bisa berubah Lenny” ucap Vallen geregetan.
“yaudah
kalau gitu..” ucap Lenny sambil menyantap makanannya.
Selang beberapa lama bel tanda pulang sekolah
berbunyi, tandanya semua siswa sudah berhenti untuk belajar hari ini. Vallen
masih menunggu kakaknya untuk menjemputnya, sedangkan sahabatnya Lenny sudah
pulang duluan. Vallen yang masih menunggu kakaknya dihampiri cowok yang ditemui
dikamar mandi tadi pagi.
“hai. . .”
sapa cowok itu.
“hai
juga, kesambet setan mana loe kok tiba tiba baik sama gw?” tanya Vallen heran.
“kesambet??
Emangnya kapan gw marah sama loe, ketemu aja baru ini?” tanya cowok itu
kebingungan.
“baru
tadi pagi udah pikun, yaudahlah gk penting” ucap Vallen cuek.
“o iya,
nama loe siapa? Gw Raka!” tanya Raka yang mengulurkan tangannya.
“gw
Vallen, “jawab Vallen menjabat tangan Raka. Vallen masih kebingungan
kenapa cowok itu berubah baik padanya.
“yaudah
ya, gw duluan, kakak gw udah jemput!” ucap Vallen yang mengetahui
bahwa kakaknya sudah datang.
“owh iya
Vallen, salam kenal ya dari gw?” ucap cowok itu tersenyum pada Vallen yang
sudah meninggalkan sekolah.
Keesokah harinya Vallen kembali kesekolah, dia kembali
bertamu dengan Raka, tapi sayangnya Raka tak seperti kemaren, hari ini dia
kembali jutek seperti awal mereka ketemu
dulu.
“heh. . .
ketemu lagi sama cewek aneh yang satu ini” ucap Raka sinis.
“dasar
aneh, kemaren aja loe sok baik sama gw, sekarang loe kembali ngomel ngomel,
sebenarnya apa sih mau loe?” tanya Vallen.
“gw baik
sama loe? Sepertinya gak akan deh, gw gk pernah dan gak akan baik sama loe.,
ngerti???” ucap Raka.
“oke, ,
jangan harap gw juga bisa baik sama loe?” jawab Vallen yang kemudian
meninggalkan Raka yang masih terpaku.
“loe gila
Vallen, kenapa loe malah berantem sama itu anak baru, gw aja pengen kenalan gk
bisa, ini malah berantem?” ucap Lenny pada Vallen saat sudah masuk kelas.
“owhh,
jadi itu murid barunya, biasa aja sih?” ucap Vallen santai.
“eh,
kalau loe benci sama dia jangan diseriusin, entar loe suka sama dia baru tahu
rasa loh!” ancam Lenny.
“heehe,
sepertinya gak akan terjadi deh?” jawab Vallen.
“awas
aja, kalau loe sampai jadian sama dia!” ucap Lenny.
“iya
Lenny, mungkin gak akan, hehe”jawab Valleen cengengesan.
Tetapi beberapa hari kedepan., pertengkaran antara
Vallen dan Raka mereda, meski kini masih belum berteman baik, dan kadang masih
ada cek cok masalah. Hingga dihari itu saat pulang sekolah, Raka kembali baik,
dia mengajak Vallen untuk pergi kerumahnya.
“Len, loe
mau kan ke rumah gw, ada yang mau gw tunjukin ke elo!” pinta Raka.
“hah?
Kerumah loe? Ngapain? Tumben banget loe baik sampe ngajak gw kerumah loe” tanya
Vallen heran.
“Please
Len, ini penting banget, ini demi Riki?” Raka memohon.
“Riki
siapa sih?” tanya Vallen heran.
“entar gw
jelasin, sekarang loe ikut aja sama gw!!” Raka memaksa Vallen menuju rumahnya.
Sesampai dirumah Raka Vallen langsung diajak kesebuah
ruangan, yang berisi foto foto Raka, tapi anehnya Raka ada dua di foto itu. Dan
hal itu yang membuat Vallen bertanya tanya.
“Raka,
ini maksudnya apa? Terus kenapa kamu ada
dua?” tanya Vallen.
“iya
Vallen, gue kembar,. Dan dia adalah Riki, yang selama ini berantem sama loe itu
Riki, bukan gue?” jelas Raka.
“gw masih
bingung dengan semua ini?” ucap Vallen yang masih tak percaya.
“Len,
sebenarnya Riki itu suka sama loe, dia berbuat seperti itu sama loe supaya loe
benci sama dia, karena dia gk mau buat loe sedih Len..” jelas Raka.
“maksudnya??”
Vallen masih bertanya tanya.
“iya Len,
Riki sakit kanker stadium akhir, sebenarnya selama disekolah dia selalu kumat,
tetapi aku yang menggantikannya jadi yang
kamu temui itu aku, tetapi aku gak bisa marah marah seperti Riki” jelas
Raka.
“trus
sekarang Riki dimana?” tanya Vallen
“dia
dirumah sakit Len,” jawab Raka tertunduk lesu.
“anterin
gue kesana sekarang” pinta Vallen.
“tapi
Len” ucap Raka
“cepetaaaaan”
pinta Vallen tak sabarr.
Selang sekitar selama 30 menitan Vallen dan Raka sudah
tiba dirumah sakit, mereka segera menuju keruangan dimana Riki dirawat. Vallen
membuka pintu kamar itu, terlihatlah Riki yang biasanya kasar, kini berbaring
tak berdaya dikamar rumah sakit itu. Dia dikelilingi keluarganya yang terlihat
menangis. Vallen yang berdiri melihat itu, air matanya pun iku terjatuh
membasahi pipinya. Raka segera mengajak Vallen untuk menemui Riki yang
terbaring memandang kearah mereka.
“Ngapain
loe kesini, mau menertawakan keadaan gw sekarang?” tanya Riki pada Vallen.
“udahlah,
loe itu lagi sakit gk usah cari gara gara sama gue, gue udah tau semuanya dari
Raka, kenapa loe gk bilang dari dulu sama gue?” tanya Vallen yang tak bisa
menahan airmatanya.
“Vallen,
gw gk mau buat loe terbebani karena gue, gue minta maaf atas semua yang gw
lakuin sama loe selama ini” ucap Riki mencoba menghapus airmata Vallen.
“Rik, gw
sayang sama loe, loe harus sembuh ya, gw gk mau hari hai gue tanpa lo” ucap
Vallen terisak.
“Vallen.,
sekarang kan ada Raka yang selalu ada buat kamu, dia jauh lebih baik dari aku,
dia gak akan marah marah sama kamu, dia akan menjagamu baik baik,” ucap Riki.
“tapi
yang aku mau bukan dia, tapi kamu, kamu udah buat hari hariku menjadi berwarna
Rik, tiap malam aku selalu berharap cepatlah pagi datang, aku ingin tau apa
yang akan terjadi antara kita hari ini, meskipun itu semua dijalani dengan
pertengkaran Riki, aku mohon sama kamu, kamu harus kuat menghadapi ini semua,
kamu harus sembuh, demi aku dan orang orang yang sayang sama kamu Riki” ucap
Vallen berusaha untuk tersenyum.
“nggak
Vallen, aku usah capek dengan ini semua, aku mau istirahat, aku ingin tenang
Vallen, aku harap kamu bisa menjalani hari seperti dulu sama Raka ya, . . .
“Raka, gw
titip Vallen sama loe, jangan buat dia sedih atau marah, jaga selalu dia buat
gw?” ucap Riki.
Dan
ternyata itu adalah kata kata terakhir yang diucapkan Riki. Dan kepergian Riki
itu menjadi akhir cerita cerita yang dialami Vallen setiap harinya. Riki mampu
membuat Vallen jatuh cinta dengan hal yang tak terduga,.dengan pertengkaran
yang selalu mereka lalui. Dan kini Vallen menjalani hari harinya tnpa Riki
lagi, melainkan dengan Raka, saudara kembar Riki.
END
BY @iramusfiana_BM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar