Rumah Peninggalan K.R.T Radjiman
Widiodiningrat
Disusun
untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Fotografi Arsitektur
Drs.
Moedjisoewasto., M.Sn
Oleh
:
Nama
: Ira Musfiana
NIM
: 13152111
Prodi
: Fotografi
Jurusan Seni Media Rekam
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia Surakarta
2014
I.
Lokasi Rumah dan Riwayat Hidup K.R.T
Rajiman Wediodiningrat
Beliau lahir pada tanggal 21 April 1879 di Yogyakarta. Dr.
Rajiman adalah tokoh pergerakan
Indonesia, sebagai salah satu pimpinan Boedi Oetomo, dan pernah mengetuai
BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha - Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sebuah
lembaga yang berfungsi untuk mempersiapkan cikal bakal terbentuknya Republik
Indonesia, melalui transisi penyerahan kekuasaan atau kemerdekaan dari
pemerintah militer Jepang.
Rumah
peninggalan K.R.T Radjiman Widiodiningrat
Bangunan
ini terletak disebelah barat daya, dengan radius sekitar 2km dari desa Walikukun.
Lebih tepatnya di Dusun
Dirgo, Desa Widodaren, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur,
bangunan tersebut masih berdiri kokoh. Warga setempat menyebut rumah tua
tersebut dengan “KANJENGAN” yakni rumah peninggalan Kanjeng Raden Tumenggung
Radjiman Widyodiningrat, atau rumah kanjeng Ndirgo. Saat mengunjuni rumah
beliau, akan disambut gerbang yang bertuliskan “Situs K.R.T Radjiman Widiodiningrat”
dan kemudian akan disambut oleh juru kuncinya yang bernama Bpk. Sagimin yang
sudah sejak tahun 1992 menjadi juru kunci disana. Dan dari gerbang besar
tersebut pengunjung harus berjalan melewati halaman rumah beliau yang kurang
lebih 500meter, baru akan sampai di bangunan utama.
Gapura masuk
Beliau datang dan tinggal didesa tersebut pada tahun
1935,membeli sebuah rumah beserta pekarangan dan persawahan seluas total +/- 73
ha dari seorang tuan tanah Belanda bernama Mr.Doning. Dr.Radjiman menempati
rumah tersebut sampai dengan wafatnya beliau di tahun 1951, pada usia 72 tahun.
Dalam aktifitasnya selama tinggal di Dirgo dalam kurun waktu sekitar 26 tahun,
Dr.Radjiman sering bolak - balik ke Jakarta untuk menghadiri rapat - rapat
penting, mengingat keberadaannya sebagai tokoh dan pejabat negara yaitu
sebagai anggota DPR, dengan menggunakan jasa transportasi Kereta Api dari
stasiun Walikukun yang hanya berjarak kurang lebih 1,5 Km dari rumahnya.Sebelum
wafat Dr.Radjiman menjual areal pekarangan dan persawahan kepada masyarakat
sekitar maupun kepada para penggarapnya dengan harga yang sangat murah, dan
hanya menyisakan untuk keluarganya seluas 7,5 ha saja. Ini wujud kepedulian dan
kecintaan beliau kepada masyarakat sekitar.
Dr.Radjiman wafat di rumah tersebut pada tahun 1951, dan
Presiden RI saat itu Ir.Soekarno datang kerumah tersebut untuk melayat. Beliau
di makamkan di makam keluarga di Yogyakarta. Dan atas jasa - jasa beliau selama
hidupnya dalam memperjuangkan kemerdekaan maka pemerintah menganugerahkan gelar
Pahlawan Nasional.
II.
Rumah Peninggalan K.R.T Radjiman
Widiodiningrat
Rumah tua ini kini mungkin sudah berumur lebih dari 137
Tahun dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Meskipun sudah banyak yang
direnovasi, tetapi tidak menghilangkan bentuk aslinya. Bangunan tua tersebut
merupakan perpaduan dari arsitektur Jawa dan Belanda yang terlihat pada
langit-langit rumah tersebut.
Atap rumah
A. Ruang Tamu atau Pendopo
Diruangan
inilah biasanya tamu-tamu penting dari Dr. Radjiman saling bercengkrama, karena
beliau termasuk sosok yang penting di Negara dan tokoh masyarakat yang sangat
di segani dimasa itu.
Ruang tamu atau pendopo
B. Ruang Keluarga
Ruang keluarga ini adalah ruangan
yang digunakan beliau untuk berkumpul dengan keluarga, ataupun makan bersama
dengan keluarga besar beliau.
Ruang
tengah/ keluarga
C. Ruang Kamar Tamu
Kamar ini dulu digunakan beliau
untuk para tamu atau sahabat yang menginap di rumah beliau.
Kamar
Tamu
Didalam kamar tamu ini juga
dilengkapi dengan meja rias.
Meja
rias
D. Kamar Dr. Radjiman
Inilah kamar beliau dan istri
tercintanya. Tempat yang digunakan untuk melepas semua rasa lelah di antara
sibuknya tugas beliau.
Kamar
Dr. Radjiman
Dikamar ini juga masih terdapat
barang barang beliau yang tersimpan didalam lemari dan juga masih terdapat
tombak yang dipakai beliau dulu.
Tombak
dan Lemari
E. Tempat santai Dr. Radjiman
Disini adalah tempat santai
beliau, saat ini tempat ini kosong tanpa barang apapun.
Ruang
Santai
F. Dapur
Dapur ini masih sedikit
tertinggal perabotnya dulu. Disinilah istri tercinta beliau memasak untuk
beliau.
Dapur
Dan
dibelakang dapur ini masih terdapat sumur tua beliau. Sumur ini sekarang kering
tanpa air.
Sumur
Tua
III.
Museum Dr. Radjiman Widiodiningrat
Museum
Dr. Radjiman Widiodiningrat
Museum ini terletak tepat
disebelah rumah beliau. Sehingga jika pengunjung datang ke museum ini dapat
dengan mudah mampir ke rumah tokoh pahlawan nasional ini. Museum ini resmi
dibuka pada tanggal 15 April 2014. Di bangunnya museum ini bertujuan agar semua
remaja aset bangsa tahu bagaimana pentingnya tokoh ini dalam memerdekakan
Indonesia. Dan tahu sejarah perjuangan dan kehidupan beliau. Agar bangunan ini
juga tidak hanya berdiri tapi tanpa diketahui nilai sejarahnya.
Inilah isi didalam museum Dr.
Radjiman Widiodiningrat.
Peta
dan perbandingan rumah beliau sebelum direnovasi dan sesudah
Isi
dari museum
Diatas adalah beberapa isi dari
museum. Isi dari museum ini adalah tentang perjalanan karir dari Dr. Radjiman.
Mulai masa kanak-kanak beliau waktu di Yogya hingga sampai beliau menjadi sosok
yang penting di Indonesia. Dan selain seorang pahlawan beliau juga seorang
dokter yang mengabdikan diri ke warga Ngawi. Sehingga jika kita mengunjungi
museum ini dapat mengenal jauh lebih dekat deng sosok K.R.T Radjiman Widiodiningrat.
Dan seolah-olah saat masuk museum ini akan merasa kita ikut di masa itu.
IV.
Miniatur didepan rumah Dr.
Radjiman
Ini adalah beberapa miniatur
patung hasil dari karya Pengrajin dari Bojonegoro.
Miniatur
wajah Dr. Radjiman
Miniatur
lumbung padi dan Kendaraan
Pendopo
didepan rumah beliau
Demikian
adalah arsitektur rumah peninggalan dan sejarah Dr. Radjiman Widiodiningrat.
“Hidup akan bernilai bilamana
diabdikan kepada umat manusia”
(Dr. Radjiman Widiodiningrat)
“Sebab tidak dengan persatuan
hati,sukar sekali negara ini dapat dijadika negara Rahayu”
(Dr. Radjiman Widiodingrat)
“Jika kita melihat jalannya dunia
pada masa kini dengan tarwaca (seksama), tentu kita mendapat kesimpulan, bahwa
jalannya kemanusiaan masih jauh sekali dari cita-cita manusia, yakni damainya
dunia”
(Dr. Radjiman Widiodiningrat –
Kebudayaan Kita Dengan Perjalanan Dunia”
“Bila kita pelajari dan selidiki
sungguh-sungguh “Lahirnya Pancasila” ini, akan ternyata ini adalah suatu
Democratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi dasar Negara kita, yang
menjadi Rechts-ideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan
berurat berakar dalam jiwa Bung Karno”
(Walikukun, tertanggal 1 Juni 1947,
Dr. KRT. Radjiman Widiodiningrat)